KLATEN - Penandatanganan hasil pelaksanaan TMMD Reguler ke-96 Kodim Klaten pada upacara penutupancmenandakan apa yang di hasil dalam pelaksanaan TMMD itu diserahkan kepada Pemerintah daerah Kabupaten Klaten. Sekda Kabupaten Klaten, Drs Jaka Sawaldi MM mengucapkan banyak terimaksih atas suksesnya pelaksanaan TMMD reguler di desa Panggang tersebut. . "Terima kasih banyak, kami atas nama pemerintah daerah Kabupaten Klaten, semua kesuksesan ini berkat warga Panggang dan TNI, dan kita wajib memelihara apa telah kita perbuat ini ", ungkapnya. Ucapan yang disampaikan pak Sekda Drs Jaka disela-sela upacara penutupan TMMD. ‘’Kami berpesan kepada pasukan TNI yang akan bergabung ke Pasukan Induk masing-maing jaga keamanan, dan sampaikan salam kepada para Komandan Satuan.’’ (widi)
Majalah Asthagatra
Bersama Rakyat Membangun Bangsa
Letkol Inf Bayu Jagad, S.IP Dandim 0723/Klaten
Selamat dari Tsunami Berkat Loncat Pagar Kawat Berduri
Hj. Sri Hartini, SE Bupati Klaten
TMMD Reguler Ke – 96 TA. 2016 Oleh Kodim 0723/Klaten Sangat Membantu Percepatan Pembangunan di Klaten
Selasa, 14 Juni 2016
Hasil TMMD Diserahkan ke Pemerintah
KLATEN - Penandatanganan hasil pelaksanaan TMMD Reguler ke-96 Kodim Klaten pada upacara penutupancmenandakan apa yang di hasil dalam pelaksanaan TMMD itu diserahkan kepada Pemerintah daerah Kabupaten Klaten. Sekda Kabupaten Klaten, Drs Jaka Sawaldi MM mengucapkan banyak terimaksih atas suksesnya pelaksanaan TMMD reguler di desa Panggang tersebut. . "Terima kasih banyak, kami atas nama pemerintah daerah Kabupaten Klaten, semua kesuksesan ini berkat warga Panggang dan TNI, dan kita wajib memelihara apa telah kita perbuat ini ", ungkapnya. Ucapan yang disampaikan pak Sekda Drs Jaka disela-sela upacara penutupan TMMD. ‘’Kami berpesan kepada pasukan TNI yang akan bergabung ke Pasukan Induk masing-maing jaga keamanan, dan sampaikan salam kepada para Komandan Satuan.’’ (widi)
Senin, 13 Juni 2016
Pasca TMMD Hidroponik Makin Diminati
Klaten – Ada banyak kendala saat TNI Kodim Klaten, melaksanakan TMMD Reguler di Desa Panggang, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten. Diantaranya, minimnya ketersedaiaan air di desa tersebut, sementara selama TMMD ratusan prajurit tinggal bersama warga desa setempat, sehingga sehari-harinya akan membutuhkan air yang jumlahnya tidak sedikit. Belum lagi, di proyek betonisasi jalan juga membutuhkan air yang tidak sedikit pula.
Belum lagi kendala sulitnya mencari sinyal HP di Desa Panggang, sehingga menjadi kendala untuk koordinasi antara desa sasaran TMMD dengan Makodim Klaten. Tidak jarang, sejumlah anggota Pendim Klaten mengemukakan, mereka harus memakai kurir jika ingin melakukan koordinasi tertentu dengan Kodim Klaten yang jaraknya dengan Desa Panggang sekitar 17 Km.
Hanya saja tampaknya semua kendala itu dijadikan sebuah tantangan bagi Dandim 0723/Klaten, Letkol Inf. Bayu Jagat dan jajarannya untuk mensukseskan TMMD di Desa Panggang. Tidak saja di pelaksanaan proyek fisik dan non fisik, melainkan ada nilai lebih yang harus “dipancangakan” di sebuah desa di lereng Gunung Merapi itu, dibalik pelaksanaan TMMD Reguler ke-96.
Komandan Kodim 0723/Klaten, letkol Inf. Bayu Jagat lantas mencari peluang yang bisa dikembangkan di desa sasaran TMMD, sehingga ada nilai lebih. Adalah, Istri Kades Panggang, Ny. Sri Susilowati Msi, yang ternyata seorang tokoh yang memprakarsai tanaman Hidroponik di Kabupaten Klaten.
Selama ini Ny. Sri Susilowati telah sukses mengembangkan beberapa jenis tanaman yang tidak membutuhkan media tanah dan air yang banyak. Diantaranya, Selada, Kangkung, Tomat, Daun Mint dan sejumlah tanaman lainnya.
Dan inspirasi tanaman Hidroponik yang ada di Desa Panggang itulah oleh Dandim Bayu Jagat dinilai sebuah peluang yang harus digarap untuk menciptakan nilai tambah di arena TMMD Reguler ke -96.
‘’Tidak ada salahnya kan, saya memikirkan kebutuhan sayuran warga Desa Pangggang yang tahun ini menjadi desa sasaran TMMD Reguler ke-96 Kodim 0723/Klaten,’’ ungkapnya ketika ditemui disela-sela cek lapangan pelaksanaan TMMD komandonya. .
Perlu Didorong
Menurutnya, tanaman Hidroponik, di Desa Panggang, Kecamatan Kemalang yang telah diprakarsai oleh Ny. Sri Susilowati Msi, layak sangat perlu didorong pengembangannya. Mengingat di wilayah itu sulit ditemukan sumber air, dan itu yang mengakibatkan warga desa setempat selama ini sulit untuk mengembangkan bercocok tanam.
‘’Tanaman dimaksud bisa tumbuh dengan tidak memerlukan air yang banyak, sehingga sangat pas dikembangkan di Desa Panggang khususnya, dan di wilayah Kecamatan Kemalang pada umumnya,’ tandas Dandim Bayu Jagat.
Menurutnya, dengan pengembangan tanaman Hidroponik tersebut, akan dapat meringankan segi ekonomi masyarakat Desa Panggang khusunya di bidang pangan. Melihat potensi wilayah tersebut sangat sulit untuk bercocok tanam.
Gayung bersambut. Ny . Sri Susilowati, Msi. sendiri sudah lama berobsesi bahwa tanaman hirdropnik yang diprakarsainya itu, bisa dikembangkan untuk industri rumahan bagi semua warga Desa Panggang. Menurutnya, jika saja di setiap halaman rumah warga Panggang ada dibudayakan tanaman hidroponik, minimal kebutuhan sayuran harian masing-masing warga bisa terpenuhi. ‘’Sementara Pak Dandim Bayu Jagat juga bertekad untuk mendorongnya, kami akan sepakat sekali,’’ ungkapnya.
Sementara itu, potensi tanaman Hidroponik yang diprakarsai oleh istri Kades Panggang, ternyata dipandang positif juga oleh sejumlah anggota Satgas TMMD Kodim Klaten. Dengan berbaurnya TNI dengan masyarakat memang diharapakan akan terjadi subsidi silang sebagai contoh Sistem Hidroponik tersebut.
Karena personel yang ditugaskan dalam program TMMD di Desa Panggang, adalah dari satuan tempur (Satpur) dan satuan Bantuan tempur (Satbanpur) yang mayoritas masih tinggal di Asrama, mereka berinisiatif untuk mempelajari tanaman hidroponik. Mereka merencanakan, adanya hidroponik bisa dimanfaatkan oleh para prajurit guna di implementasikan di satuan nanti. Hal ini cukup masuk akal, mengingat untuk lahan bercocok tanam di asrama juga sangat terbatas.
Istilah hidroponik (hydroponics) digunakan untuk menjelaskan tentang cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya. Di kalangan umum, istilah ini dikenal sebagai “bercocok tanam tanpa tanah”. Di sini termasuk juga bercocok tanam di dalam pot atau wadah lainnya yang menggunakan air atau bahan porous lainnya, seperti pecahan genting, pasir kali, kerikil, maupun gabus putih.
Dahulu, peneliti yang bekerja di laboratorium fisiologi tumbuhan sering bermain-main dengan air sebagai media tanam dengan tujuan uji coba bercocok tanam tanpa tanah. Sebagian orang menganggap metode itu sebagai aquakultur (bercocok tanam di dalam air). Uji coba tersebut ternyata berhasil dan patut diberi acungan jempol sehingga banyak ahli agronomi yang terus mengembangkan cara tersebut.
Pada perkembangan selanjutnya, media air diganti dengan media yang lebih praktis, efisien dan lebih produktif. Cara kedua ini lebih mendapat sambutan dibandingkan cara yang hanya menggunakan media air. Oleh karenanya, pada perkembangan selanjutnya, teknik itu disebut hidroponik. Hidroponik ini kemudian dikembangkan secara komersial.
Sejarah Hidroponik
Menurut literatur, bertanam secara hidroponik telah dimulai ribuan tahun yang lalu. Seperti diceritakan, ada taman gantung di Babilon dan taman terapung di Cina yang bisa disebut sebagai contoh Hidroponik. Di Mesir, India dan Cina, manusia purba sudah kerap menggunakan larutan pupuk organik untuk memupuk semangka, mentimun dan sayuran lainnya dalam bedengan pasir di tepi sungai.
Terakhir pada tahun 1936 istilah hidroponik lahir, istilah ini diberikan untuk hasil dari Dr. WF. Gericke, seorang agronomis dari Universitas California, USA, berupa tanaman tomat setinggi 3 meter yang penuh buah dan ditanam dalam bak berisi mineral hasil uji cobanya.
Sejak itu, hidroponik yang berarti hydros adalah air dan ponics untuk menyebut pengerjaan atau bercocok tanam, dinobatkan untuk menyebut segala aktivitas bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai tempat tumbuhnya.
Gericke ini menjadi sensasi saat itu, foto dan riwayat kerjanya menjadi headline surat kabar, bahkan ia sempat dinobatkan menjadi orang berjasa abad 20. Sejak itu, hidroponik tidak lagi sebatas skala laboratorium, tetapi dengan teknik yang sederhana dapat diterapkan oleh siapa saja termasuk ibu rumah tangga. Jepang yang kalah dari sekutu dan tanahnya tandus akibat bom atom, pada tahun 1950 secara gencar menerapkan hidroponik. Kemudian negara lain seperti irak, Bahrain dan negara-negara penghasil minyak yang tanahnya berupa gurun pasir dan tandus pun ikut menerapkan hidroponik. (widi)
Belum lagi kendala sulitnya mencari sinyal HP di Desa Panggang, sehingga menjadi kendala untuk koordinasi antara desa sasaran TMMD dengan Makodim Klaten. Tidak jarang, sejumlah anggota Pendim Klaten mengemukakan, mereka harus memakai kurir jika ingin melakukan koordinasi tertentu dengan Kodim Klaten yang jaraknya dengan Desa Panggang sekitar 17 Km.
Hanya saja tampaknya semua kendala itu dijadikan sebuah tantangan bagi Dandim 0723/Klaten, Letkol Inf. Bayu Jagat dan jajarannya untuk mensukseskan TMMD di Desa Panggang. Tidak saja di pelaksanaan proyek fisik dan non fisik, melainkan ada nilai lebih yang harus “dipancangakan” di sebuah desa di lereng Gunung Merapi itu, dibalik pelaksanaan TMMD Reguler ke-96.
Komandan Kodim 0723/Klaten, letkol Inf. Bayu Jagat lantas mencari peluang yang bisa dikembangkan di desa sasaran TMMD, sehingga ada nilai lebih. Adalah, Istri Kades Panggang, Ny. Sri Susilowati Msi, yang ternyata seorang tokoh yang memprakarsai tanaman Hidroponik di Kabupaten Klaten.
Selama ini Ny. Sri Susilowati telah sukses mengembangkan beberapa jenis tanaman yang tidak membutuhkan media tanah dan air yang banyak. Diantaranya, Selada, Kangkung, Tomat, Daun Mint dan sejumlah tanaman lainnya.
Dan inspirasi tanaman Hidroponik yang ada di Desa Panggang itulah oleh Dandim Bayu Jagat dinilai sebuah peluang yang harus digarap untuk menciptakan nilai tambah di arena TMMD Reguler ke -96.
‘’Tidak ada salahnya kan, saya memikirkan kebutuhan sayuran warga Desa Pangggang yang tahun ini menjadi desa sasaran TMMD Reguler ke-96 Kodim 0723/Klaten,’’ ungkapnya ketika ditemui disela-sela cek lapangan pelaksanaan TMMD komandonya. .
Perlu Didorong
Menurutnya, tanaman Hidroponik, di Desa Panggang, Kecamatan Kemalang yang telah diprakarsai oleh Ny. Sri Susilowati Msi, layak sangat perlu didorong pengembangannya. Mengingat di wilayah itu sulit ditemukan sumber air, dan itu yang mengakibatkan warga desa setempat selama ini sulit untuk mengembangkan bercocok tanam.
‘’Tanaman dimaksud bisa tumbuh dengan tidak memerlukan air yang banyak, sehingga sangat pas dikembangkan di Desa Panggang khususnya, dan di wilayah Kecamatan Kemalang pada umumnya,’ tandas Dandim Bayu Jagat.
Menurutnya, dengan pengembangan tanaman Hidroponik tersebut, akan dapat meringankan segi ekonomi masyarakat Desa Panggang khusunya di bidang pangan. Melihat potensi wilayah tersebut sangat sulit untuk bercocok tanam.
Gayung bersambut. Ny . Sri Susilowati, Msi. sendiri sudah lama berobsesi bahwa tanaman hirdropnik yang diprakarsainya itu, bisa dikembangkan untuk industri rumahan bagi semua warga Desa Panggang. Menurutnya, jika saja di setiap halaman rumah warga Panggang ada dibudayakan tanaman hidroponik, minimal kebutuhan sayuran harian masing-masing warga bisa terpenuhi. ‘’Sementara Pak Dandim Bayu Jagat juga bertekad untuk mendorongnya, kami akan sepakat sekali,’’ ungkapnya.
Sementara itu, potensi tanaman Hidroponik yang diprakarsai oleh istri Kades Panggang, ternyata dipandang positif juga oleh sejumlah anggota Satgas TMMD Kodim Klaten. Dengan berbaurnya TNI dengan masyarakat memang diharapakan akan terjadi subsidi silang sebagai contoh Sistem Hidroponik tersebut.
Karena personel yang ditugaskan dalam program TMMD di Desa Panggang, adalah dari satuan tempur (Satpur) dan satuan Bantuan tempur (Satbanpur) yang mayoritas masih tinggal di Asrama, mereka berinisiatif untuk mempelajari tanaman hidroponik. Mereka merencanakan, adanya hidroponik bisa dimanfaatkan oleh para prajurit guna di implementasikan di satuan nanti. Hal ini cukup masuk akal, mengingat untuk lahan bercocok tanam di asrama juga sangat terbatas.
Istilah hidroponik (hydroponics) digunakan untuk menjelaskan tentang cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya. Di kalangan umum, istilah ini dikenal sebagai “bercocok tanam tanpa tanah”. Di sini termasuk juga bercocok tanam di dalam pot atau wadah lainnya yang menggunakan air atau bahan porous lainnya, seperti pecahan genting, pasir kali, kerikil, maupun gabus putih.
Dahulu, peneliti yang bekerja di laboratorium fisiologi tumbuhan sering bermain-main dengan air sebagai media tanam dengan tujuan uji coba bercocok tanam tanpa tanah. Sebagian orang menganggap metode itu sebagai aquakultur (bercocok tanam di dalam air). Uji coba tersebut ternyata berhasil dan patut diberi acungan jempol sehingga banyak ahli agronomi yang terus mengembangkan cara tersebut.
Pada perkembangan selanjutnya, media air diganti dengan media yang lebih praktis, efisien dan lebih produktif. Cara kedua ini lebih mendapat sambutan dibandingkan cara yang hanya menggunakan media air. Oleh karenanya, pada perkembangan selanjutnya, teknik itu disebut hidroponik. Hidroponik ini kemudian dikembangkan secara komersial.
Sejarah Hidroponik
Menurut literatur, bertanam secara hidroponik telah dimulai ribuan tahun yang lalu. Seperti diceritakan, ada taman gantung di Babilon dan taman terapung di Cina yang bisa disebut sebagai contoh Hidroponik. Di Mesir, India dan Cina, manusia purba sudah kerap menggunakan larutan pupuk organik untuk memupuk semangka, mentimun dan sayuran lainnya dalam bedengan pasir di tepi sungai.
Terakhir pada tahun 1936 istilah hidroponik lahir, istilah ini diberikan untuk hasil dari Dr. WF. Gericke, seorang agronomis dari Universitas California, USA, berupa tanaman tomat setinggi 3 meter yang penuh buah dan ditanam dalam bak berisi mineral hasil uji cobanya.
Sejak itu, hidroponik yang berarti hydros adalah air dan ponics untuk menyebut pengerjaan atau bercocok tanam, dinobatkan untuk menyebut segala aktivitas bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai tempat tumbuhnya.
Gericke ini menjadi sensasi saat itu, foto dan riwayat kerjanya menjadi headline surat kabar, bahkan ia sempat dinobatkan menjadi orang berjasa abad 20. Sejak itu, hidroponik tidak lagi sebatas skala laboratorium, tetapi dengan teknik yang sederhana dapat diterapkan oleh siapa saja termasuk ibu rumah tangga. Jepang yang kalah dari sekutu dan tanahnya tandus akibat bom atom, pada tahun 1950 secara gencar menerapkan hidroponik. Kemudian negara lain seperti irak, Bahrain dan negara-negara penghasil minyak yang tanahnya berupa gurun pasir dan tandus pun ikut menerapkan hidroponik. (widi)
Minggu, 12 Juni 2016
TMMD Kodim Klaten Berhasil Membangun Jalan Beton Sepanjang 1.596 Meter
KLATEN -- Warga Desa Panggang Kecamatan Kemalang Kabupaten Klaten terus menuai manfaat dari pelaksanaan TMMD Reguler ke-96 Kodim 0723/Klaten.
Di sejumlah kehidupan sehari-hari, mereka merasakan perubahan yang signifikan pasca pelaksanaan TMMD reguler ke- 96 Kodim Klaten tersebut.
‘’Di berbagai kesempatan, banyak warga kami sering bertutur sekaligus berharap, kapan ada TMMD lagi dari Kodim Klaten ? Lucu memang kedengarannya. Tetapi itulah kepolosan warga sebagai ungkapan apa yang dirasakan saat ini setelah digelar TMMD di desa kami,’’ kata Kades Panggang, Nandang Nuryanto, Sabtu (11/6).
Diketahui, banyak hal yang telah dilakukan di program TMMD Kodim Klaten, dimana melibatkan anggota TNI sebanyak 110 orang juga sedikitnya 65 warga setempat di setiap harinya. Mulai betonisasi, rehab Rumah Tidak Layak Huni (RLTH) sejumlah warga, jambanisasi dan rehab tempat ibadah (masjid).
Menurut Kades, kini ada sisi manfaat lain pasca TMMD, yakni meningkatnya semangat gotong royong di tengah-tengah masyarakat Desa Panggang, yang sebelumnya sudah memudar.
Di proyek fisik betonisasi jalan sepanjang 1.596 M, lebar 3 meter, dan dengan ketebalan 0,1 meter, banyak yang diapresiasi warga dan petinggi desa Panggang maupun Kecamatn Kemalang. Bukan berarti mengenyampingkan sasaran fisik lainnya, seperti rehap 10 Rumah Tidak Layak Huni di Desa Panggang sebanyak 10 KK dan jambanisasi.
Susanto, seorang warga Desa Panggang mengatakan, jalan kini sudah baik, otomatis transportasi warga untuk menjual hasil panenan kebunnya semakin mudah. ‘’Kini warga bisa menjual hasil kebunnya menggunakan sepeda motor. Sebaliknya para pedagang dari luar sekarang langsung bisa masuk untuk membeli hasil kebun warga,” katanya.
Senada dikatakan Mbah Tontro (67), warga Desa Panggang lainnya. Menurutnya, sebelum ada TMMD, karena kondisi jalan jelek warga harus memikul atau menggendong dagangan hasil buminya kalau ingin menjualnya di pasar kecamatan memotong jalur supaya dekat, " katanya.
Sementara Suyitno, juga warga desa Panggang merasa bangga dengan adanya kegiatan TMMD ini, apalagi sejak kediamannya direhab dengan tembok, dia bersama keluarga tidak lagi merasa kan kedinginan jika turun salju.
“Ssetelah rumah kami dibangun TNI dan warga melalui TMMD, dimana dinding sudah tembok, tidak lagi papan, kami tidak takut lagi jika sewaktu-waktu rurun salju dari puncak Merapi ,’’ katanya.
Jalur Evakuasi
Sementara Dandim 0723/Klaten, Letkol Inf. Bayu Jagat menyatakan, jika betonisasi jalan yang dikerjakan oleh TNI Kodim 0723/Klaten melalui program TMMD Reguler ke-96 tahun 2016, di jangka panjang fungsinya sangat vital, yakni menambah jalur evakuasi warga, apabila sewaktu-waktu gunung merapi meletus.
Dandim Bayu Jagat juga berpesan kepada warga hendaknya dapat merawat dan menjaga apa yang sudah dilaksanakan dan dibangun selama kegiatan TMMD berlangsung.
‘’Pesan kami, jaga dan rawatlah apa yang telah dihasilkan TMMD Kodim Klaten. Sehingga azas manfaat akan terus dirasakan waraga masyarakat,’’ pesan Dandim Bayu Jagat.
Diketahui, Desa Panggang termasuk salah satu desa yang masuk dalam zona daerah terdampak bencana Gunung Merapi. Seperti dikemukakan, Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Kemalang, Harjoko ST MT.
Dengan adanya jalan baru yang dikerjakan melalui program TMMD Kodim Klaten itu kelak akan mempermudah evakuasi warga yang ada di dukuh tersebut apabila sewaktu waktu terjadi erupsi GunungMerapi.
‘’Jalan yang sekarang sudah berbeton, lebar, dulunya hanya jalan setapak. Sekarang, pasca TMMD, kendaraan roda empat bisa langsung masuk ke dukuh yang paling dalam di Desa Panggang,’’ kata Harjoko. (widi)
Di sejumlah kehidupan sehari-hari, mereka merasakan perubahan yang signifikan pasca pelaksanaan TMMD reguler ke- 96 Kodim Klaten tersebut.
‘’Di berbagai kesempatan, banyak warga kami sering bertutur sekaligus berharap, kapan ada TMMD lagi dari Kodim Klaten ? Lucu memang kedengarannya. Tetapi itulah kepolosan warga sebagai ungkapan apa yang dirasakan saat ini setelah digelar TMMD di desa kami,’’ kata Kades Panggang, Nandang Nuryanto, Sabtu (11/6).
Diketahui, banyak hal yang telah dilakukan di program TMMD Kodim Klaten, dimana melibatkan anggota TNI sebanyak 110 orang juga sedikitnya 65 warga setempat di setiap harinya. Mulai betonisasi, rehab Rumah Tidak Layak Huni (RLTH) sejumlah warga, jambanisasi dan rehab tempat ibadah (masjid).
Menurut Kades, kini ada sisi manfaat lain pasca TMMD, yakni meningkatnya semangat gotong royong di tengah-tengah masyarakat Desa Panggang, yang sebelumnya sudah memudar.
Di proyek fisik betonisasi jalan sepanjang 1.596 M, lebar 3 meter, dan dengan ketebalan 0,1 meter, banyak yang diapresiasi warga dan petinggi desa Panggang maupun Kecamatn Kemalang. Bukan berarti mengenyampingkan sasaran fisik lainnya, seperti rehap 10 Rumah Tidak Layak Huni di Desa Panggang sebanyak 10 KK dan jambanisasi.
Susanto, seorang warga Desa Panggang mengatakan, jalan kini sudah baik, otomatis transportasi warga untuk menjual hasil panenan kebunnya semakin mudah. ‘’Kini warga bisa menjual hasil kebunnya menggunakan sepeda motor. Sebaliknya para pedagang dari luar sekarang langsung bisa masuk untuk membeli hasil kebun warga,” katanya.
Senada dikatakan Mbah Tontro (67), warga Desa Panggang lainnya. Menurutnya, sebelum ada TMMD, karena kondisi jalan jelek warga harus memikul atau menggendong dagangan hasil buminya kalau ingin menjualnya di pasar kecamatan memotong jalur supaya dekat, " katanya.
Sementara Suyitno, juga warga desa Panggang merasa bangga dengan adanya kegiatan TMMD ini, apalagi sejak kediamannya direhab dengan tembok, dia bersama keluarga tidak lagi merasa kan kedinginan jika turun salju.
“Ssetelah rumah kami dibangun TNI dan warga melalui TMMD, dimana dinding sudah tembok, tidak lagi papan, kami tidak takut lagi jika sewaktu-waktu rurun salju dari puncak Merapi ,’’ katanya.
Jalur Evakuasi
Sementara Dandim 0723/Klaten, Letkol Inf. Bayu Jagat menyatakan, jika betonisasi jalan yang dikerjakan oleh TNI Kodim 0723/Klaten melalui program TMMD Reguler ke-96 tahun 2016, di jangka panjang fungsinya sangat vital, yakni menambah jalur evakuasi warga, apabila sewaktu-waktu gunung merapi meletus.
Dandim Bayu Jagat juga berpesan kepada warga hendaknya dapat merawat dan menjaga apa yang sudah dilaksanakan dan dibangun selama kegiatan TMMD berlangsung.
‘’Pesan kami, jaga dan rawatlah apa yang telah dihasilkan TMMD Kodim Klaten. Sehingga azas manfaat akan terus dirasakan waraga masyarakat,’’ pesan Dandim Bayu Jagat.
Diketahui, Desa Panggang termasuk salah satu desa yang masuk dalam zona daerah terdampak bencana Gunung Merapi. Seperti dikemukakan, Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Kemalang, Harjoko ST MT.
Dengan adanya jalan baru yang dikerjakan melalui program TMMD Kodim Klaten itu kelak akan mempermudah evakuasi warga yang ada di dukuh tersebut apabila sewaktu waktu terjadi erupsi GunungMerapi.
‘’Jalan yang sekarang sudah berbeton, lebar, dulunya hanya jalan setapak. Sekarang, pasca TMMD, kendaraan roda empat bisa langsung masuk ke dukuh yang paling dalam di Desa Panggang,’’ kata Harjoko. (widi)
Sabtu, 11 Juni 2016
TMMD Bisa Tingkatkan Perekonomian Warga
KLATEN - Ini salah satu dampak yang sudah dirasakan warga Desa Panggang, Kecamatan Kemalang terkait perlaksanaan TMMD Kodim Klaten di desa setempat. Yakni, dengan telah dibangunnya jalan dengan konstruksi beton (salah satu sasaran proyek fisik TMMD Kodim Klaten), warga mengakui bahwa jalan itu bisa berdampak meningkatnya ekonomi pedesaan.
Susanto, salah satu warga Desa Panggang, mengungkapkan, dengan dibangunnya jalan oleh TNI Kodim Klaten bersama-sama warga kini dampaknya sangat disarakan oleh warga masyarakat. Satu contoh nyata, dengan baiknya jalan, transportasi bisa tramportasi untuk menjual hasil kebun warga semakin mudah.
‘’Kini warga bisa menjual hasil kebunnya dengan menggunakan sepeda motor bahkan para pedagangpun langsung bisa masuk untuk membeli hasil kebun warga. Tidak sepertidulu sebelum ada TMMD, warga harus memikul atau menggendong dagangan hasil buminya kalau ingin memotong jalur supaya dekat, " ungkap, Mbah Tontro (67), yangjuga warga Desa Panggang, ketika ditemuidi rumahnya, Jumat (10/6/2016). (widi)
Susanto, salah satu warga Desa Panggang, mengungkapkan, dengan dibangunnya jalan oleh TNI Kodim Klaten bersama-sama warga kini dampaknya sangat disarakan oleh warga masyarakat. Satu contoh nyata, dengan baiknya jalan, transportasi bisa tramportasi untuk menjual hasil kebun warga semakin mudah.
‘’Kini warga bisa menjual hasil kebunnya dengan menggunakan sepeda motor bahkan para pedagangpun langsung bisa masuk untuk membeli hasil kebun warga. Tidak sepertidulu sebelum ada TMMD, warga harus memikul atau menggendong dagangan hasil buminya kalau ingin memotong jalur supaya dekat, " ungkap, Mbah Tontro (67), yangjuga warga Desa Panggang, ketika ditemuidi rumahnya, Jumat (10/6/2016). (widi)
" Betonisasi Jalan Mudahkan Evakuasi Warga Saat Merapi Meletus "
KLATEN – Betonisasi jalan yang dikerjakan oleh TNI Kodim 0723/Klaten melalui program TMMD Reguler ke-96 tahun 2016, dalam jangka pendek akan memperlacar perekonomian yang ada di Desa Panggang, Kecamatan Kemalang (desa sasaran TMMD Kodim Klaten).
Dibalik itu semua, di jangka jangka panjang manfaat betonisasi jalan tersebut sangan vital, karenamemang juga difokuskan untuk menambah jalur evakuasi warga apabila sewaktu-waktu gunung merapi meletus.
Kades Panggang, Nandang Nuryanto menjelaskan, bahwa Desa Panggang termasuk salah satu desa yang masuk dalam zona daerah terdampak bencana Gunung Merapi. Hal tersebut juga dibenarkan oleh Sekcam Kemalang, Harjoko ST.MT.
"Dengan adanya jalan baru yang dikerjakan melalui program TMMD Kodim Klaten, maka kelak akan mempermudah evakuasi warga yang ada di dukuh tersebut apabila sewaktu waktu terjadi erupsi GunungMerapi.
Karena dulunya jalan yang dibangun TNI bersama warga itu hanya jalan setapak. Sekarang, pasca TMMD, kendaraan rodan empat bisa langsung masuk ke dukuh yang paling dalam di Desa Panggang,’’ ungkap Sekcam Kemalang, Harjoko ST.MT. (widi)
Dibalik itu semua, di jangka jangka panjang manfaat betonisasi jalan tersebut sangan vital, karenamemang juga difokuskan untuk menambah jalur evakuasi warga apabila sewaktu-waktu gunung merapi meletus.
Kades Panggang, Nandang Nuryanto menjelaskan, bahwa Desa Panggang termasuk salah satu desa yang masuk dalam zona daerah terdampak bencana Gunung Merapi. Hal tersebut juga dibenarkan oleh Sekcam Kemalang, Harjoko ST.MT.
"Dengan adanya jalan baru yang dikerjakan melalui program TMMD Kodim Klaten, maka kelak akan mempermudah evakuasi warga yang ada di dukuh tersebut apabila sewaktu waktu terjadi erupsi GunungMerapi.
Karena dulunya jalan yang dibangun TNI bersama warga itu hanya jalan setapak. Sekarang, pasca TMMD, kendaraan rodan empat bisa langsung masuk ke dukuh yang paling dalam di Desa Panggang,’’ ungkap Sekcam Kemalang, Harjoko ST.MT. (widi)
" Jalanan Berlumpur Sudah Bisa Dilewati Mobil Sekarang "
KLATEN - Sejumlah proyek fisik di TMMD Kodim Klaten, sangat bermanfaat bagi warga Desa Panggang, Kecamatan Kemalang, yang dijadikan desa sasaran TMMD. Baik itu, jambansiasi, rehab Rumah RTLH maupun rehab Masjid.
Hanya saja, di antara sejumlah poryek fisik di TMMD Kodim Klaten, proyek betonisasi di Dukuh Suren, Desa Panggang, mafaat yang dirasakan warga melebihi jika dibanding proyek-proyek fisik lainnya.
Hal itu disebabkan, jalan beton yang dibangun TNI bersama warga di TMMD Regler tahun 2016 itu memang benar-benar skala prioritas bagi kepentingan warga Panggang. Pasalnya, jalan tersebut menghubungan warga Dukuh Suren ke Jalan Raya Balerante.
Menurut Suwono , seorang tokoh masyarakat Desa Panggang, jalan yang sekarang sudah mulus berkat TMMD, sebelumnya di setiap musim penghujan jalan selalu berlumpur, sehingga tidak bisa dilewati oleh sepeda, motor, apalagi mobil.
‘’Selaku tokoh masyarakat di desa sini (Panggang –Red), kami mengucapkan beribu-ribu terimakasih, atas kepedulian TNI yang ikut mendorong pembangunan di desa Panggang,’’ ungkapnya.
Harapkan Bimbingan
Dia mengungkapkan, tidak tahu lagi harus dengan apa mengucapkan terimakasih kepada bapak-bapak TNI Kodim Klaten, instansi terkait. ‘’Ke depan kami tidak ingin komunikasi terhenti setelah TMMD usai. Melainkan, dorongan, bimbingan dari semua saja sangat kami harapkan,” harap Suwono
Sementara itu terpisah, Danki Satgas TMMD Kodim Klaten, Kapten Inf. Jatmiko mengemukakan, bahwa pihaknya tidak lupa juga mengucapan banyak terimakasih kepada warga Desa Panggang yang telah memberikan dukungan secara all out selama pelaksanaan TMMD.
‘’Mewakili seluruh anggota Satgas TMMD, Kapten Inf. Jatmiko menyampaikan permintaan maaf apabila selama melaksanakan TMMD ada kesalahan. Sama, harapan kami semoga hubungan ini tidak hanya sampai disini, ” ungkap Kapten Jatmiko. (widi)
Hanya saja, di antara sejumlah poryek fisik di TMMD Kodim Klaten, proyek betonisasi di Dukuh Suren, Desa Panggang, mafaat yang dirasakan warga melebihi jika dibanding proyek-proyek fisik lainnya.
Hal itu disebabkan, jalan beton yang dibangun TNI bersama warga di TMMD Regler tahun 2016 itu memang benar-benar skala prioritas bagi kepentingan warga Panggang. Pasalnya, jalan tersebut menghubungan warga Dukuh Suren ke Jalan Raya Balerante.
Menurut Suwono , seorang tokoh masyarakat Desa Panggang, jalan yang sekarang sudah mulus berkat TMMD, sebelumnya di setiap musim penghujan jalan selalu berlumpur, sehingga tidak bisa dilewati oleh sepeda, motor, apalagi mobil.
‘’Selaku tokoh masyarakat di desa sini (Panggang –Red), kami mengucapkan beribu-ribu terimakasih, atas kepedulian TNI yang ikut mendorong pembangunan di desa Panggang,’’ ungkapnya.
Harapkan Bimbingan
Dia mengungkapkan, tidak tahu lagi harus dengan apa mengucapkan terimakasih kepada bapak-bapak TNI Kodim Klaten, instansi terkait. ‘’Ke depan kami tidak ingin komunikasi terhenti setelah TMMD usai. Melainkan, dorongan, bimbingan dari semua saja sangat kami harapkan,” harap Suwono
Sementara itu terpisah, Danki Satgas TMMD Kodim Klaten, Kapten Inf. Jatmiko mengemukakan, bahwa pihaknya tidak lupa juga mengucapan banyak terimakasih kepada warga Desa Panggang yang telah memberikan dukungan secara all out selama pelaksanaan TMMD.
‘’Mewakili seluruh anggota Satgas TMMD, Kapten Inf. Jatmiko menyampaikan permintaan maaf apabila selama melaksanakan TMMD ada kesalahan. Sama, harapan kami semoga hubungan ini tidak hanya sampai disini, ” ungkap Kapten Jatmiko. (widi)
Warga yang Biasanya Kedinginan Karena Kabut Merapi Bisa Merasa Lega
KLATEN - Sebanyak 10 rumah warga Desa Panggang, Kecamatan Kemalang, seolah mendapat rejeki nomplok, menyusul rumah mereka direhap melalui TMMD Reguler ke-96 Kodim 0723/Klaten yang baru saja usai tangal 1 Juni 2016 lalu.
Banyak cerita yang menyeruak dari para warga yang rumahnya kini menjadi layak huni setelah dibangun oleh TNI bersama-sama warga setempat. Yang paling sangat dirasakan adalah, di saat hari raya yang sebentar lagi akan datang itu, mereka akan berkumpul dengan handai taulan dengan rumah yang lebih bagus, lebih bersih, dan lebih layak.
Adalah Suyitno, warga Dukuh Bunder Rt/Rw 03/05, Desa Panggang, dimana dia termasuk salah satu warga Desa Panggang yang ketiban rejeki, menyusul rumahnya direhab oleh TNI Kodim Klaten melalui program TMMD. ‘’Kalau ditanya tanggapannya, ya tentu saya senang,’’ ungkapnya ketika ditemui di rumahnya, Senin Sabtu (11/06/2016).
Dulu sebelum direhab/ dibangun, ungkap Suyitno, dinding rumahnya terbuat dar papan kayu dan sudah tidak asing lagi, jika malam hari tiba hawa terasa dingin memasuki rumah. Terlebih saat turun salju, karena rumah dari papan, hawa dngin serasa menusuk hingga ke tulang. Padahal di Desa Panggang Panggang sering turun kabut dari puncak Merapi.
‘’Saat ini setelah rumah kami dibangun TNI dan warga melalui TMMD, dimana dinding sudah tembok, tidak lagi papan, kami tidak takut lagi jika sewaktu-waktu rurun salju dari puncak Merapi , ’’ ungkap Suyitno.
Dinilai Rejeki
Lain halnya dengan yang diungkapkan, Ny, walimin (60), seorang warga Desa Panggang, yang rumahnya juga ikut mendapat jatah direhab oleh TNI melalui program TMMD. Ketika ditemui di rumahnya, Sabtu (06/06, 2016), dia mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang maha Esa karena keluarganya telah dibuatkan rumah melalui program TMMD. ‘’Ini merupakan rejeki dari Tuhan Yang Maha Kuasa melalui perantara bapak- bapak TNI Kodim Klaten,’’ ungkapnya.
Sembari ditambahkan, bayangan di hari Raya Idul Fitri nanti akan ceria bersama sanakkeluarga pasti terwujud. Tidak lagi takut bocor jika turun hujan, karena kini atap rumahnya telah dibangun begitu sempurna saat TMMD.
Terpisah, Dandim 0723/Klaten, Letkol Inf. Bayu Jagat menandaskan, bahwa selama TMMD di Desa Panggang, prajurit sudah berbuat yang terbaik untuk masyarakat.
‘’Pesan kami, jaga dan raatlah apa yang telah dihasilkan TMMD Kodim Klaten. Sehingga azas manfaat akan terus dirasakan waraga masyarakat,’’ pesan Dandim Bayu Jagat. (widi)
Banyak cerita yang menyeruak dari para warga yang rumahnya kini menjadi layak huni setelah dibangun oleh TNI bersama-sama warga setempat. Yang paling sangat dirasakan adalah, di saat hari raya yang sebentar lagi akan datang itu, mereka akan berkumpul dengan handai taulan dengan rumah yang lebih bagus, lebih bersih, dan lebih layak.
Adalah Suyitno, warga Dukuh Bunder Rt/Rw 03/05, Desa Panggang, dimana dia termasuk salah satu warga Desa Panggang yang ketiban rejeki, menyusul rumahnya direhab oleh TNI Kodim Klaten melalui program TMMD. ‘’Kalau ditanya tanggapannya, ya tentu saya senang,’’ ungkapnya ketika ditemui di rumahnya, Senin Sabtu (11/06/2016).
Dulu sebelum direhab/ dibangun, ungkap Suyitno, dinding rumahnya terbuat dar papan kayu dan sudah tidak asing lagi, jika malam hari tiba hawa terasa dingin memasuki rumah. Terlebih saat turun salju, karena rumah dari papan, hawa dngin serasa menusuk hingga ke tulang. Padahal di Desa Panggang Panggang sering turun kabut dari puncak Merapi.
‘’Saat ini setelah rumah kami dibangun TNI dan warga melalui TMMD, dimana dinding sudah tembok, tidak lagi papan, kami tidak takut lagi jika sewaktu-waktu rurun salju dari puncak Merapi , ’’ ungkap Suyitno.
Dinilai Rejeki
Lain halnya dengan yang diungkapkan, Ny, walimin (60), seorang warga Desa Panggang, yang rumahnya juga ikut mendapat jatah direhab oleh TNI melalui program TMMD. Ketika ditemui di rumahnya, Sabtu (06/06, 2016), dia mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang maha Esa karena keluarganya telah dibuatkan rumah melalui program TMMD. ‘’Ini merupakan rejeki dari Tuhan Yang Maha Kuasa melalui perantara bapak- bapak TNI Kodim Klaten,’’ ungkapnya.
Sembari ditambahkan, bayangan di hari Raya Idul Fitri nanti akan ceria bersama sanakkeluarga pasti terwujud. Tidak lagi takut bocor jika turun hujan, karena kini atap rumahnya telah dibangun begitu sempurna saat TMMD.
Terpisah, Dandim 0723/Klaten, Letkol Inf. Bayu Jagat menandaskan, bahwa selama TMMD di Desa Panggang, prajurit sudah berbuat yang terbaik untuk masyarakat.
‘’Pesan kami, jaga dan raatlah apa yang telah dihasilkan TMMD Kodim Klaten. Sehingga azas manfaat akan terus dirasakan waraga masyarakat,’’ pesan Dandim Bayu Jagat. (widi)













