
Ibarat Jalangkung, sosok hantu yang sering diperankan dalam perfilman di tanah air, datang tak diundang pergi tak bilang-bilang, demikian halnya dengan bencana. Kehadirannya selalu membuat kaged siapa saja yang menerimanya.
Tentu masih segar di ingatan kita bagaimana bencana tsunami di akhir tahun 2004 atau tepatnya tanggal 26 Desember 2004 melanda Aceh, jutaan kubik air laut masuk ke darat meluluhlantakan bumi Serambi Makkah ini. Ada satu cerita yang patut menjadi pelajaran bagi kita tentang arti sebuah bencana. Cerita ini berasal dari Komandan Kodim 0723/Klaten, Letkol Ing Bayu Jagad, S.IP dimana ketika itu berada di Aceh dan hendak pulang setelah beberapa saat berada disana untuk melaksanakan tugas. Inilah cerita selengkapnya, penuturan langsung dari Letkol Inf Bayu Jagad :
Saya tugas di Aceh mulai tahun 2006 awal, saya pindah tugas ke Aceh dimana pada saat itu saya lagi berada di perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timor Leste yaitu tepatnya di Atambua, tiba-tiba tutun sprint, saya baca dan saya pindah ke Kodam Aceh. Tahun 2006 awal saya jadi organik di Aceh.
Namu sebelum saya jadi organik di Aceh, pada tahun sebelumnya yaitu tahun 2003-2004 karena batalyon saya, batalyon 744 di Atambua, NTT yang juga perbatasan dengan Timor Leste, dulu di Timor-Timur karena Timor-Timur merdeka jadi kita pindah ke perbatasan.
Pada tahun 2003-2004 tersebut kami dipercaya untuk melaksanakan tugas Operasi Darurat Militer di Aceh dimana pada saat itu sedang gencar-gencarnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) selama 18 bulan. Kemudian pada saat itu, setelah tugas saya selesai disana, kami persiapan berangkat pulang, kita pulang dengan kapal laut. Pada saat itu kami sudah berada di Pelabuhan Kurung Raya, pelabuhan tersebut jaraknya ke Kota Banda Aceh kurang lebih sekitar setengah jam. Kami saat itu sudah berada di pelabuhan kurang lebih selama 5 hari untuk menunggu kapal menjemput.
Nah kemudian pada hari ke 5, waktu itu hari Minggu tanggal 26 Desember 2004 sekitar jam 8 pagi, pada waktu itu kami sedang melaksanakan upacara pemeriksaan dari POM TNI, diperiksa-periksa ransel kami. Kemudian pada saat itu terjadilah gempa, gempanya kencang sekali, kalau kita berdiri kita ndak sanggup dan pasti jatuh akhirnya kami jongkok. Jadi kelihatan tanah itu seperti kita ada di atas karpet, karpetnya itu ditarik-tarik,jadi seperti kita di atas karpet dan karpet itu yang menarik-narik dari semua sisi begitu, kalau berdiri pasti jatuh makanya kita jongkok.
Gempa tersebut berlangsung lama, sekitar 5-10 menit. Kemudian setelah itu karena di belakang kita ada tembok, sebelum air itu naik ada hembusan angin, burung-burung pada terbang karena air surut dulu, jadi pantai itu mengering, kami ndak sempat melihat pantai karena tertutup sama tembok, yang kami rasa itu ya anging kencang kemudian bersamaan dengan air ternyata dan air itu sempat ditahan sama tembok untuk beberapa detik sehingga kita masih bisa melihat air di atas tembok.
Saya ambil senjata, ambil ransel dan lari. Kami lari dan di depan ada pagar kawat, kawat rangkap 3 itu, kemudian saya lompat ndak bisa-bisa, saya coba lagi dan ndak bisa, saya buang helm dan ransel tinggal senjata yang saya pegang kemudian saya lompat itu pagar baru bisa tapi kaki kiri saya nyangkut kawat, pakaian robek semua dan celana bagian kiri robek juga, terus disana itu pada berebutan,tidak ada istilah anak buah atau pimpinan, semua ingin menyelamatkan diri.
Saya lari lurus dan tidak belok-belok karena kami tahu, dikasih tahu kalau di depan ada bukit, bukitnya berjarak sekitar 300-400 meter dan kami pun naik ke bukit tersebut. Setelah sampai di atas bukit untuk beberapa saat, kami pun turun bukit lagi mau lihat rekan-rekan kami, ada yang kena atau tidak. Turun sekitar15-30 menit setelah kejadian tsunami tersebut, kemudian setelah kami turun eh air laut naik lagi kemudian kami pun naik ke atas dan beristirahat sekitar 1,5 jam. Kami lihat air sudah selesai ya sudah kami turun, barulah saat itu terlihat mayat bergelimpangan, bentuk-bentuknya sudah tidak jelas lagi padahal baru sekali kena air tapi badannya terlihat pada gosong, ada juga yang terseret ke tengah laut. Kami pun cek dan ada 5 orang anggota kita yang meninggal, dia tertimpa truck-truck Fuso, tertimpa reruntuhan bangunan dan yang kena tersebut adalah orang yang larinya terakhir. Kalau saya kan berlari, berlari terus untuk menyelamatkan diri. Ya begitulah tsunami, pengalaman hidup yang tak pernah terlupakan karena itu berkaitan dengan masalah nyawa.
Yang ada dalam pikiran saya waktu tsunami terjadi adalah kiamat. Inilah akhir dunia, kira-kira seperti itu. Setelah bencana tsunami terjadi, saya dan teman-teman bersegera mengurus jenazah, mungkin ada sekitar 10 ribu jenazah dan kalau tidak segera kita urus tentu akan menjadi permasalahan tersendiri mengingat jenazah kan cepat busuk apalagi karena habis mengapung di air.
Dalam hati saya merasa drop, barang-barang saya habis semua termasuk oleh-oleh yang mau saya bawa pulang. Kami bermalam di atas bukit dan membuat tenda dengan tidak ada sinyal. Kemudian saya dengar terakhir itu karena diberitakan semua meninggal, orang tua saya pingsan, di rumah saya di Jakarta juga digelar tahlilan dikira saya sudah meninggal dunia.
Tsunami memang menjadi sebuah fenomena bencana alam yang luar biasa dasyatnya. Jutaan kubik air laut masuk ke daratan, air itu cepat mengering, langsung surut, surutnya itu bukan di pantai saja tetapi lebih menjorok lagi ke dalam. Bayangkan saja dasyatnya, pertamina itu punya tempat penampungan BBM, itu besar kan, itupun terseret sampai ke pinggiran kampung yang jaraknya sampai 3-4 kilo meter.
Soal makanan, kami makan seadanya karena tidak ada bantuan yang masuk saat itu, saya pun makan dari sisa-sisa makanan yang berserakan, seperti makanan ringan berupa Chiki ataupun roti dan masih hidup walau tidak ada bantuan masuk. Kami masih bisa makan tapi nafsu makannya sudah berkurang sekali. Bagaimana mau makan kalau melihat mayat bergelimpangan dan jumlahnya ribuan. Jadi rasanya agak “nek” begitu.
Sebagai manusia, rasa kemanusiaan pun muncul. Melihat ribuan manusia yang sudah menjadi mayat pada bergelimpangan, jenazah satu per satu kami kumpulkan tentunya tanpa pemandian, tanpa pengkafanan karena kondisi darurat, kami kumpulkan dalam satu lubang di atas bukit kemudian disholatkan. Kamipun bantu-bantu masyarakat untuk buka akses jalan karena jalan sudah tidak kelihatan hancur berantakan. Itulah tsunami, semoga tidak terjadi lagi di tanah air ini.
Saudaraku ...bencana, deritanya tentu tiada akhir, ia datang dari alam mungkin alam murka atas ulah kita. Kalau kita tidak mencintai alam tentu alampun akan sungkan dengan kita dan bencanapun tentu akan tak terelakan. Oleh karena itu, mencintai alam , mencintai lingkungan hidup, kita jaga alam dan kelestariannya karena sekarang masyarakat banyak yang tidak peduli dengan alam, kalau bukan kita siapa lagi kalau bukan sekarang kapan lagi. Jika kita mencintai alam, alampun tentu akan mencintai kita. Bagaimana mecintai alam, hal yang mudah dan bisa dilakukan oleh setiap orang adalah menanam pohon, karena pohon menghasilkan gas O2 dan kita membutuhkan gas O2 tersebut. Selain itu ada manfaat lain dari menanam pohon yaitu pohon bisa menjaga kandungan air tanah karena akar pohon bisa menahan air, dengan kondisi yang demikian, air yang sekarang juga menjadi issue internasional, dengan menanam pohon tentu kita telah ikut berupaya dalam menjaga ketersediaan air.
Demikan penuturan langsung dari Letkol Inf Bayu Jagad, S.IP Komandan Kodim 0723/Klaten, semoga dari apa yang disampaikan bisa menjadi sebuah pelajaran berharga akan arti sebuah bencana dan pentingnya menjaga lingkungan.(ghazali)
Tentu masih segar di ingatan kita bagaimana bencana tsunami di akhir tahun 2004 atau tepatnya tanggal 26 Desember 2004 melanda Aceh, jutaan kubik air laut masuk ke darat meluluhlantakan bumi Serambi Makkah ini. Ada satu cerita yang patut menjadi pelajaran bagi kita tentang arti sebuah bencana. Cerita ini berasal dari Komandan Kodim 0723/Klaten, Letkol Ing Bayu Jagad, S.IP dimana ketika itu berada di Aceh dan hendak pulang setelah beberapa saat berada disana untuk melaksanakan tugas. Inilah cerita selengkapnya, penuturan langsung dari Letkol Inf Bayu Jagad :
Saya tugas di Aceh mulai tahun 2006 awal, saya pindah tugas ke Aceh dimana pada saat itu saya lagi berada di perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timor Leste yaitu tepatnya di Atambua, tiba-tiba tutun sprint, saya baca dan saya pindah ke Kodam Aceh. Tahun 2006 awal saya jadi organik di Aceh.
Namu sebelum saya jadi organik di Aceh, pada tahun sebelumnya yaitu tahun 2003-2004 karena batalyon saya, batalyon 744 di Atambua, NTT yang juga perbatasan dengan Timor Leste, dulu di Timor-Timur karena Timor-Timur merdeka jadi kita pindah ke perbatasan.
Pada tahun 2003-2004 tersebut kami dipercaya untuk melaksanakan tugas Operasi Darurat Militer di Aceh dimana pada saat itu sedang gencar-gencarnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) selama 18 bulan. Kemudian pada saat itu, setelah tugas saya selesai disana, kami persiapan berangkat pulang, kita pulang dengan kapal laut. Pada saat itu kami sudah berada di Pelabuhan Kurung Raya, pelabuhan tersebut jaraknya ke Kota Banda Aceh kurang lebih sekitar setengah jam. Kami saat itu sudah berada di pelabuhan kurang lebih selama 5 hari untuk menunggu kapal menjemput.
Nah kemudian pada hari ke 5, waktu itu hari Minggu tanggal 26 Desember 2004 sekitar jam 8 pagi, pada waktu itu kami sedang melaksanakan upacara pemeriksaan dari POM TNI, diperiksa-periksa ransel kami. Kemudian pada saat itu terjadilah gempa, gempanya kencang sekali, kalau kita berdiri kita ndak sanggup dan pasti jatuh akhirnya kami jongkok. Jadi kelihatan tanah itu seperti kita ada di atas karpet, karpetnya itu ditarik-tarik,jadi seperti kita di atas karpet dan karpet itu yang menarik-narik dari semua sisi begitu, kalau berdiri pasti jatuh makanya kita jongkok.
Gempa tersebut berlangsung lama, sekitar 5-10 menit. Kemudian setelah itu karena di belakang kita ada tembok, sebelum air itu naik ada hembusan angin, burung-burung pada terbang karena air surut dulu, jadi pantai itu mengering, kami ndak sempat melihat pantai karena tertutup sama tembok, yang kami rasa itu ya anging kencang kemudian bersamaan dengan air ternyata dan air itu sempat ditahan sama tembok untuk beberapa detik sehingga kita masih bisa melihat air di atas tembok.
Saya ambil senjata, ambil ransel dan lari. Kami lari dan di depan ada pagar kawat, kawat rangkap 3 itu, kemudian saya lompat ndak bisa-bisa, saya coba lagi dan ndak bisa, saya buang helm dan ransel tinggal senjata yang saya pegang kemudian saya lompat itu pagar baru bisa tapi kaki kiri saya nyangkut kawat, pakaian robek semua dan celana bagian kiri robek juga, terus disana itu pada berebutan,tidak ada istilah anak buah atau pimpinan, semua ingin menyelamatkan diri.
Saya lari lurus dan tidak belok-belok karena kami tahu, dikasih tahu kalau di depan ada bukit, bukitnya berjarak sekitar 300-400 meter dan kami pun naik ke bukit tersebut. Setelah sampai di atas bukit untuk beberapa saat, kami pun turun bukit lagi mau lihat rekan-rekan kami, ada yang kena atau tidak. Turun sekitar15-30 menit setelah kejadian tsunami tersebut, kemudian setelah kami turun eh air laut naik lagi kemudian kami pun naik ke atas dan beristirahat sekitar 1,5 jam. Kami lihat air sudah selesai ya sudah kami turun, barulah saat itu terlihat mayat bergelimpangan, bentuk-bentuknya sudah tidak jelas lagi padahal baru sekali kena air tapi badannya terlihat pada gosong, ada juga yang terseret ke tengah laut. Kami pun cek dan ada 5 orang anggota kita yang meninggal, dia tertimpa truck-truck Fuso, tertimpa reruntuhan bangunan dan yang kena tersebut adalah orang yang larinya terakhir. Kalau saya kan berlari, berlari terus untuk menyelamatkan diri. Ya begitulah tsunami, pengalaman hidup yang tak pernah terlupakan karena itu berkaitan dengan masalah nyawa.
Yang ada dalam pikiran saya waktu tsunami terjadi adalah kiamat. Inilah akhir dunia, kira-kira seperti itu. Setelah bencana tsunami terjadi, saya dan teman-teman bersegera mengurus jenazah, mungkin ada sekitar 10 ribu jenazah dan kalau tidak segera kita urus tentu akan menjadi permasalahan tersendiri mengingat jenazah kan cepat busuk apalagi karena habis mengapung di air.
Dalam hati saya merasa drop, barang-barang saya habis semua termasuk oleh-oleh yang mau saya bawa pulang. Kami bermalam di atas bukit dan membuat tenda dengan tidak ada sinyal. Kemudian saya dengar terakhir itu karena diberitakan semua meninggal, orang tua saya pingsan, di rumah saya di Jakarta juga digelar tahlilan dikira saya sudah meninggal dunia.
Tsunami memang menjadi sebuah fenomena bencana alam yang luar biasa dasyatnya. Jutaan kubik air laut masuk ke daratan, air itu cepat mengering, langsung surut, surutnya itu bukan di pantai saja tetapi lebih menjorok lagi ke dalam. Bayangkan saja dasyatnya, pertamina itu punya tempat penampungan BBM, itu besar kan, itupun terseret sampai ke pinggiran kampung yang jaraknya sampai 3-4 kilo meter.
Soal makanan, kami makan seadanya karena tidak ada bantuan yang masuk saat itu, saya pun makan dari sisa-sisa makanan yang berserakan, seperti makanan ringan berupa Chiki ataupun roti dan masih hidup walau tidak ada bantuan masuk. Kami masih bisa makan tapi nafsu makannya sudah berkurang sekali. Bagaimana mau makan kalau melihat mayat bergelimpangan dan jumlahnya ribuan. Jadi rasanya agak “nek” begitu.
Sebagai manusia, rasa kemanusiaan pun muncul. Melihat ribuan manusia yang sudah menjadi mayat pada bergelimpangan, jenazah satu per satu kami kumpulkan tentunya tanpa pemandian, tanpa pengkafanan karena kondisi darurat, kami kumpulkan dalam satu lubang di atas bukit kemudian disholatkan. Kamipun bantu-bantu masyarakat untuk buka akses jalan karena jalan sudah tidak kelihatan hancur berantakan. Itulah tsunami, semoga tidak terjadi lagi di tanah air ini.
Saudaraku ...bencana, deritanya tentu tiada akhir, ia datang dari alam mungkin alam murka atas ulah kita. Kalau kita tidak mencintai alam tentu alampun akan sungkan dengan kita dan bencanapun tentu akan tak terelakan. Oleh karena itu, mencintai alam , mencintai lingkungan hidup, kita jaga alam dan kelestariannya karena sekarang masyarakat banyak yang tidak peduli dengan alam, kalau bukan kita siapa lagi kalau bukan sekarang kapan lagi. Jika kita mencintai alam, alampun tentu akan mencintai kita. Bagaimana mecintai alam, hal yang mudah dan bisa dilakukan oleh setiap orang adalah menanam pohon, karena pohon menghasilkan gas O2 dan kita membutuhkan gas O2 tersebut. Selain itu ada manfaat lain dari menanam pohon yaitu pohon bisa menjaga kandungan air tanah karena akar pohon bisa menahan air, dengan kondisi yang demikian, air yang sekarang juga menjadi issue internasional, dengan menanam pohon tentu kita telah ikut berupaya dalam menjaga ketersediaan air.
Demikan penuturan langsung dari Letkol Inf Bayu Jagad, S.IP Komandan Kodim 0723/Klaten, semoga dari apa yang disampaikan bisa menjadi sebuah pelajaran berharga akan arti sebuah bencana dan pentingnya menjaga lingkungan.(ghazali)






0 komentar:
Posting Komentar